• Home
  • Lock.
  • RPP
  • RKAS
  • TGS Siswa
  • Daftar Isi
  • Alumnus
  • Kontak
  • Comments

JIKA...



Jika Kamu Menyadari Amalmu Akan Ditimbang

Hukum sebab akibat adalah fakta yang disepakati adanya oleh seluruh penduduk bumi. Termasuk tercapainya keinginan dan terhindarnya manusia dari bencana, pasti ada sebab yang mendahuluinya. Hanya saja, manusia berbeda – beda dalam mengidentifikasi sebab yang sesungguhnya.
Kaum atheis yang tidak mengenal Allah, menyandarkan pemenuhan kebutuhan dan peraihan cita – cita mereka kepada kemampuannya. Tak ada istilah do’a dalam kamus kehidupan mereka. Berhasil menurut mereka adalah buah dari kemampuan usaha semata. Selamat menurut mereka, melulu dikarenakan kesigapan atau cermatnya perhitungan. Begitupun dengan kegagalan dan kecelakaan, terjadi lantaran keterbatasan kemampuan atau kecerobohan. Padahal akal sehat sepakat, kemampuan manusia serba terbatas, sementara besarnya rintangan dan bahaya jauh berlipat. Maka tatkala ikhtiar ragawi sudah klimaks, pikiran juga sudah buntu mencari jalan keluar, yang tinggal hanyalah rasa putus asa. Karena mereka kaum yang kafir tidak mengenal cara lain sesudah itu.
Sebagian lagi, sedikit “lebih mending” dari mereka. Di saat kehidupan terasa lapang, nyaman, dan menyenangkan, mereka cenderung lalai, tidak menjaga ketaatan, dan berlaku syirik. Namun jika tiba – tiba kesempitan dan bahaya terpampang di hadapan mata, serta – merta mereka tinggalkan sesembahan yang mereka agungkan selain Allah, kemudian berdo’a dengan ikhlas memohon hanya kepada Allah. Akal mereka masih waras, kekuatan manusia tidak mampu mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Sejenak mereka juga sadar, berhala batu, kayu maupun jimat yang mereka agungkan tak lebih hanya pajangan yang tak bisa membantu apa – apa . Allah mengkisahkan tentang mereka dalam QS al-Isra’67 yang artinya “ Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia ( Allah ). Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.”
Begitulah karakter orang musyrik zaman dulu, hanya mengenal Allah di saat sempit, tetapi berpaling di saat lapang. Sekarang , kesyirikan yang terjadi lebih parah lagi. Mereka tak hanya mempersekutukan Allah pada saat rakha’ (longgar) saja, bahkan di saat syiddah (sempit), kesyirikan makin menjadi.
Bukankah saat Allah turunkan peringatan dengan muntahan lava pijar, hembusan awan panas disertai hujan kerikil dan suara gemuruh dari perut bumi yang membuat hati miris, manusia tidak kemudian mentauhidkan Allah dan meninggalkan perilaku syirik ?. Mereka justru mengadakan ritual tolak bala dengan menyembelih kerbau, dagingnya mereka makan, sedang sepala ditanam di lereng gunung untuk sesaji ?
Adapun orang mukmin memiliki sikap yang berbeda, bahkan bersebrangan dengan itu semua. Bagi mereka, ‘tabungan’ kebaikan yang dijalani secara kontinyu dalam suka dan duka, adalah sebab dominan datangnya keberuntungan, dan terhindarnya mereka dari petaka. Mereka mengimani kebenaran sabda Nabi saw,”Kenalilah Allah di saat lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di saat sempit”.(HR Tirmidzi).
Waktu longgar baginya adalah saat menabung, investasi amal kepada Allah, dengan memelihara hak – hak Nya, menjaga batas – batas yang telah ditetapkan oleh Nya, termasuk menjalankan ibadah – ibadah sunnah. Dengan itulah seorang mukmin membangun hubungan ma’rifat khashshah (hubungan khusus) dengan Rabb-Nya. Hal itu tak hanya bermanfaat baginya menghadapi hari akhirat yang merupakan asyaddu syiddah(kesempitan yang paling berat), bahkan juga bermanfaat baginya ketika menghadapi kegentingan di dunia. Kisah ketiga orang yang terjebak di gua, merupakan contoh betapa amal shalih yang dilakukan dengan ikhlas, dapat menjadi wasilah dikabulkannya do’a di saat sulit.
Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Salman al-Farisi, bahwa beliau berkata, Apabila seseorang berdo’a kepada Allah pada saat longgar, kemudian kesulitan menerpanya, lalu dia berdo’a, maka malaikat berkata, “(Ini) Suara yang telah dikenal, dari manusia yang lemah, dan sebelumnya biasa berdo’a di saat lapang.”Maka para malaikat memintakan syafaat (kepada Allah) untuknya. Dan jika seseorang tidak pernah berdo’a di saat lapang, kemudian kesulitan menerpanya lantas di berdo’a, maka malaikat berkata,”Suara yang asing ( tidak dikenal) dari seorang manusia lemah, sebelumnya tidak pernah berdo’a pada saat lapang,lantas di saat sulit dia berdo’a.  Maka malaikat tidak memintakan baginya syafaat / pertolongan (kepada Allah).
Kebenaran rumus ini telah terbukti dan dialami oleh Nabi Yunus as, ketika beliau berada dalam perut ikan, tak ada lagi ikhtiar yang mampu dia lakukan. Mustahil pula beliau meminta pertolongan orang lain dalam kondisi itu. Tapi beliau tahu, ada Dzat yang mampu menolongnya. Yang beliau taati saat kondisi aman, tak mungkin membiarkan beliau dalam kondisi ketakutan. Dalam kegelapan perut ikan itu, beliau berkata,”tidak ada ilah yang haq melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang – orang yang dzalim.”(Al-Anbiya:87)
Ucapan tasbih itu didengar oleh Allah, dan Allah pun menyelamatkan beliau. Hanya saja tasbih yang dilantunkan oleh Yunus itu bukan kali pertama beliau ucapkan. Beliau terbiasa mengucapkannya dalam kondisi lapang karena itulah Allah menolongnya. “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang – orang yang banyak mengingat Allah (bertasbih), niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”(Ash-Shafat)
Adapun yang terjadi atas Nabi saw, sangat banyak kisah bertebaran tentangnya. Betapa banyak peristiwa genting yang beliau alami, lalu Allah menyelamatkan beliau dari bahaya musuh.
Rumus ini tak hanya berlaku bagi para anbiya. Siapapun yang mengenal Allah dan menjaga haq –haq-Nya di saat aman, Allah akan mengenalnya di saat genting. Karena itulah seorang mukmin tak pernah bosan mengumpulkan kebaikan. Dia selalu menjaga pengabdiannya kepada Allah dalam segala kondisi, di saat suka dan duka, lapang dan sempit dan saat mudah maupun sulit. Rasulullah saw bersabda,”Tidak kenyang – kenyangnya orang yang beriman dari (mengumpulkan) kebaikan, hingga di berhenti di jannah.”(HR Tirmidzi, beliau berkata,”hadis hasan”)
Mereka yakin, pada saatnya kebaikan itu akan berbuah kebahagiaan. Juga menjadi sebab datangnya pertolongan di dunia dan puncaknya adalah dijauhkannya mereka dari neraka, kesempitan yang paling berat dan penderitaan yang paling dahsyat. Alangkah indah nasihat sebagian ulama salaf,”Jika kamu menyadari amalmu akan ditimbang, baik dan buruknya, maka jangan remehkan kebaikan sekecil apapun, karena kelak kamu akan melihatnya, yang sedikit itu akan membahagiakan dirimu. Dan jangan pula menganggap enteng keburukan sekecil apapun, karena kelak kamu akan saksikan bahwa yang sedikit itu akan membuatmu menyesal.”Wallahu a’lam.

0 komentar:

Post a Comment