• Home
  • Lock.
  • RPP
  • RKAS
  • TGS Siswa
  • Daftar Isi
  • Alumnus
  • Kontak
  • Comments
Showing posts with label WAWASAN ISLAMI. Show all posts
Showing posts with label WAWASAN ISLAMI. Show all posts

AMALAN RINGAN MENUJU RIDLO ILAHI

AMALAN RINGAN MENUJU RIDLO ILAHI
(10 Amalan Ringan Pembuka Jalan Menuju Surga)
Bismillahir-Rahmaanir-RahimA





1.    Berdzikir Kepada Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua kalimat yang ringan bagi lisan, berat dalam mizan (timbangan amal) dan dicintai ar-Rahmaan: ‘Subhanallahu wa bihamdih’ (Maha Suci Allah dan dengan pujian-Nya kami memuji) ‘Subhanallah al-Azhiim’ (Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Agung).” (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,, “Membaca: ‘Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar’, sungguh aku lebih cintai daripada dunia dan seisinya.” (HR Muslim no 2695 dan at-Tirmidzi) Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang dapat menyelamatkannya dari adzab Allah melainkan dzikir kepada Allah.” (HR ath-Thabrani dengan sanad yang hasan)
2.    Meridhai Allah, Islam dan Rasulullah
“Tidaklah seorang hamba muslim mengucapkan pada saat dia memasuki waktu pagi dan memasuki waktu petang: ‘radhiitu billahi rabba, wa bil islaami diina wa bi muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam nabiya (aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi-ku)’ sebanyak tiga kali, melainkan merupakan hak bagi Allah untuk meridhainya pada hari kiamat kelak.” (HR Ahmad)
3.    Menuntut Ilmu Syar’i
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan
mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim no 2699
4.     Menahan Marah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan para makhluk sampai Allah memilihkan untuknya bidadari-bidadari yang dia suka.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi)
5.    Membaca Ayat Kursi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat, maka tidak ada yang dapat menghalanginya untuk masuk surga kecuali jika dia mati.” (HR an-Nasaa’i) Maksudnya adalah jika dia mati, dia akan masuk surga dengan rahmat dan karunia Allah ‘Azza wa Jalla.
6.    Menyingkirkan Gangguan di Jalan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang selalu mengganggu manusia” (HR. Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Ada seorang lelaki berjalan melewati ranting pohon yang ada di tengah jalan, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sungguh aku akan singkirkan ranting ini dari kaum muslimin agar tidak menganggu mereka.’ Maka dia pun dimasukkan ke dalam surga.” (HR Muslim)
7.    Membela Kehormatan Saudaranya di Saat Ketidak-hadirannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa membela harga diri saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan memalingkan wajahnya dari api neraka.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang Allah lindungi dari keburukan apa yang ada di antara kedua rahangnya (yaitu mulut) dan keburukan yang ada di antara dua pahanya (yaitu kemaluannya), niscaya dia akan masuk surga.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi)
8.    Menjauhi Debat Kusir Walaupun Benar
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR Abu Dawud)
9.    Berwudhu’ Lalu Shalat Dua Raka’at
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,”Tidaklah seorang muslim berwudhu’ lalu dia baguskan wudhu’nya, kemudian dia berdiri shalat dua raka’at dengan menghadapkan hatinya dan wajahnya pada kedua raka’at itu, melainkan surga wajib baginya.” (HR Muslim)
10.     Pergi Shalat ke Masjid
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan untuk menuju masjid, mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda, “Barangsiapa yang pergi ke masjid atau pulang dari masjid, niscaya Allah akan persiapkan baginya tempat tinggal di dalam surga setiap kali
(Dari Berbagai Sumber Hadist)
Baca selengkapnya >>

NGAJI BARENG KYAI EDISI 30 OKTOBER 2015

Ngaji bareng kyai sebagai salah satu pilar SMP Negeri 1 Dukuhturi, menuju warga sturi yang beriman dan bertaqwa terus dikembangkan. Kepala sekolah SMP Negeri 1 Dukuhturi, sangat serius menagani program ini. Hal ini terbukti dengan selalu dilakukannya evaluasi setiap kegiatan juga materi dakwah yang mendukung program keimanan dan ketakwaan juga kedisiplinan. Beliau juga selalu mengingatkan agar senantiasa mendengarkan apa apa yang disampaikan oleh Ustad.
Pada edisi 30 Oktober 2015 sturi mengundang ustad Drs, Tuharso. dari sidapurna. Dalam taosiyahnya beliau menjelaskan tentang maraknya pemahaman dan pola fikir islam yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah, SAW. seperti yang sedang marak penyebaran JIL (Jaringan Islam Liberal ) di Indonesia. Beliau tegaskan kita wajib membumi hanguskan faham maupun pola pola fikir dari Jaringan Islam Liberal. Untuk mengantisipasi di Indonesia ada yang namanya JIN ( Jaringan Islam Nusantara).
Beliau juga menyampaikan pentingnya Sholat 5 waktu sebagai benteng kita sebagai umat Islam. Bahkan beliau memberikan hadiah berupa buku buku secara gratis kepada siswa yang solat subuhnya berjamaah.
Ustad yang telah lulus s2 dan saat ini sedang menyelesaikan s3 nya itu berhassil menghipnotis seluruh jamaah dalam kegiatan Ngaji bareng kyai ini. Hingga anak anak kerasan dan antusias mendengarkan materi pengajiaanya. Banyak Motivasi yang disampaikan oleh beliau kepada anak anak SMP Negeri 1 Dukuhturi. Semoga berdampak positif pada peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Baca selengkapnya >>

HINDARI LUPA DIRI AKAN NIKMAT ALLAH

Salah satu bentuk keimanan kita kepada Allah adalah rasa syukur kepadaNya, yang telah memberi kita nikmat yang tiada bisa dihitung bahkan oleh alat yang paling canggih sekalipun. Bersyukur kepada Allah berarti kita mengingat Allah karena kita sadar bahwa kenikmatan yang kita dapat adalah pemberian Allah SWT. Namun, banyak dari kita ( yang mengaku sebagai umat islam ) yang lalai dari nikmat Allah, mereka lalai untuk bersyukur dan bahkan terlalu asyik dengan keniimatan yang mereka dapat sehingga melupakan Sang Pemberi Nikmat.
Dasar tidak tahu diri !. Itulah ungkapan yang sering terdengar yang dialamatkan bagi orang yang tidak tahu berterima kasih. Dan salah satu sifat jelek manusia adalah lupa diri.
Allah SWT berfirman yang artinya : " Dan apabila kesusahan menimpa manusia dia berkata kepada kami di waktu berbaring atau di waktu duduk, tetapi setelah kami hilangkan kesusahan itu daripadanya, dia berlalu seolah-olah tidak pernah berdoa kepada kami mengenai kesusahan yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampau batas itu memandang baik apa yang mereka kerjakan. (QS.Yunus : 12)".
Dalam ayat tersebut banyak disinyalir, perilaku manusia saat ini. Jika mereka ditimpa msibah, ditimpa kesusahan, baik penyakit, kemiskinan, kehilangan harta benda, dan nyawa, mereka berteriak-teriak memanggil Allah. Berdoa terus-menerus pagi, siang dan malam tiada henti. Lalu ketika kesusahan berlalu, ia melenggang, seakan dia tidak pernah meminta, memohon berdoa, begitu juga jika ada keinginan, ia meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Bahkan berjanji untuk berbuat ini dan itu jika permintaannya terkabul. Tapi tatkala apa yang ia inginkan telah ia dapatkan, ketika kenikmatan itu sudah ada dalam genggamannya, jngankan ingat akan janjinya, nikmat itu sendiri sering dipergunakan di luar garis keinginan si Pemberi. Terlalu asyik dengan dengan kenikmatan sehingga melupakan Sang Pemberi Nikmat, bahkan lebih parahya lagi, manusia sering menggunakan kenikmatan yang mereka dapatkan untuk bermaksiat ria. Semoga kita bukan termasuk golongan mereka itu.
Dalam al Quran Allah SWT menjelaskan yang artinya : " Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan."(Fushilat:49). Allah juga menjelaskan dalam ayat lain, yang artinya " Dan apabila kami memberi nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, tetapi apabila ia ditimpa malapetaka ia banyak berdoa".(Fushilat:51)
Dalam kehidupan sehari-hari, mudah kita temui logikanya. Si A memohon kepada si B bagjane sambil "bersujud-sujud" agar dimodali berdagang. Setelah diberi sukses kehidupannya, si A tidak ingat lagi kepada si B. Bahkan ketika si B ternyata gantian yang susuah, si A tidak mau membantu si B. Tentu sumpah serapah yang keluar dari mulut si B. Atau ketika si A tidak memanfaatkan modal yang diberikan si B untuk berdagang sebagaimana janjinya, melainkan untuk berfoya-foya. Tentu saja si B sebagai pemodal, akan kececa bukan ?
Lalu mengapa logika berpikir tersebut tidak kita terapkan dalam hubungan kita dengan yang Maha Pemberi ? Betapa nikmat Nya tiada terhitung. Dari mulai udara yang Ia berikan untuk kita bernafas, rezeki yang dengannya kita dapat makan, tubuh yang indah dan sempurna tanpa cacat, panca indera yang lengkap dan masih banyak lagi yang lainnya.
Lalu pantaskah setelah apa yang Allah berikan kepada kita berupa kenikmatan yang luar biasa banyaknya ini, kita malah menjadi kufur, lalai dan lupa diri dari Nya ?. Bayangkan jika sifat Allah seperti sifat manusia yang pemarah, setelah berbagai dosa yang kita lalukan, mungkin Allah akan mecabut semua nikmat Nya dari diri kita. Namun Allah sangat berbeda dengan manusia. Ia maha pemaaf dan maha pengasih. Ia senantiasa memberikan rahmat dan kenikmatan Nya bahkan terhadap hamba Nya yang suka bermaksiat dan berbuat dosa sekalipun. Sebagaimana Allah pernah berfirman dalam sebuah hadis qudsi :"Sesungguhnya rahmat Ku itu mendahului Kemarahan Ku". Melihat kemurahan Allah yang begitu luas itu, seharusnya kita sadar akan apa yang harus kita lakukan dengan nikmat yang telah Ia berikan kepada kita. Sungguh memalukan jika kita berbuat lalim akan nikmat yang kita dapat, sementara ketika kita dalam kesusahan kita merengek-rengek, memohon agar dihilangkan kesusahan dari diri kita, dan ketika kesusahan itu diangkat dari tubuh kita, kita menjadi orang yang lupa diri. Bahkan tidak jarang orang yang dengan nikmat yang Allah berikan kepadanya, baik berupa kekayaan, kecerdasan, wajah yang rupawan dan sebagainya, lalu ia menjadi sombong, kikir, angkuh dan berbuat dzalim. Mereka menyagka bahwa apa yang mereka dapatkan adalah hasil usahanya sendiri, tanpa ada campur tangan Allah SWT. Sungguh mereka adalah orang-orang yang sesat dan celaka. Karena usaha manusia itu tidak akan berhasil tanpa seizin Allah SWT. Allah SWT berfirman, yang artinya:"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu nenyaksikan sendiri keingkarannya. Dan sesungguhnya manusia itu sangat bakhil karena cintanya pada harta".(al-Adiyat :6-9).
Pernahkan kita berpikir bahwa apa yang kita lakukan masih sangat jauh dari apa yang Allah harapkan ? Tentu saja sebagai manusia, sangat susah untuk menjadi sempurna dalam melaksanakan apa yang digariskan Allah. Tapi, tetaplah berusaha untuk memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan.
Perbanyak zikir untuk mengingat Nya. Sholat, bersedekah menyisihkan penghasilan, berzakat untuk mensucikan harta, dan berpuasa untuk mensucikan badan sudah merupakan wujud terima kasih kita atas apa yang telah diberi Nya. Perbanyak syukur terhadap Allah, dan menggunakan fasilitas yang telah diberikan Allah, baik anggota tubuh yang menempel di badan maupun fasilitas keduniaan sebisa mungkin di jalan yang telah diatur Nya. Pasti Allah akan memberikan kita tambahan nikmat dan mencukupkan kebutuhan kita.
Sumber :
Dari berbagai sumber kajian Islam
Baca selengkapnya >>

JIKA...



Jika Kamu Menyadari Amalmu Akan Ditimbang

Hukum sebab akibat adalah fakta yang disepakati adanya oleh seluruh penduduk bumi. Termasuk tercapainya keinginan dan terhindarnya manusia dari bencana, pasti ada sebab yang mendahuluinya. Hanya saja, manusia berbeda – beda dalam mengidentifikasi sebab yang sesungguhnya.
Kaum atheis yang tidak mengenal Allah, menyandarkan pemenuhan kebutuhan dan peraihan cita – cita mereka kepada kemampuannya. Tak ada istilah do’a dalam kamus kehidupan mereka. Berhasil menurut mereka adalah buah dari kemampuan usaha semata. Selamat menurut mereka, melulu dikarenakan kesigapan atau cermatnya perhitungan. Begitupun dengan kegagalan dan kecelakaan, terjadi lantaran keterbatasan kemampuan atau kecerobohan. Padahal akal sehat sepakat, kemampuan manusia serba terbatas, sementara besarnya rintangan dan bahaya jauh berlipat. Maka tatkala ikhtiar ragawi sudah klimaks, pikiran juga sudah buntu mencari jalan keluar, yang tinggal hanyalah rasa putus asa. Karena mereka kaum yang kafir tidak mengenal cara lain sesudah itu.
Sebagian lagi, sedikit “lebih mending” dari mereka. Di saat kehidupan terasa lapang, nyaman, dan menyenangkan, mereka cenderung lalai, tidak menjaga ketaatan, dan berlaku syirik. Namun jika tiba – tiba kesempitan dan bahaya terpampang di hadapan mata, serta – merta mereka tinggalkan sesembahan yang mereka agungkan selain Allah, kemudian berdo’a dengan ikhlas memohon hanya kepada Allah. Akal mereka masih waras, kekuatan manusia tidak mampu mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Sejenak mereka juga sadar, berhala batu, kayu maupun jimat yang mereka agungkan tak lebih hanya pajangan yang tak bisa membantu apa – apa . Allah mengkisahkan tentang mereka dalam QS al-Isra’67 yang artinya “ Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia ( Allah ). Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.”
Begitulah karakter orang musyrik zaman dulu, hanya mengenal Allah di saat sempit, tetapi berpaling di saat lapang. Sekarang , kesyirikan yang terjadi lebih parah lagi. Mereka tak hanya mempersekutukan Allah pada saat rakha’ (longgar) saja, bahkan di saat syiddah (sempit), kesyirikan makin menjadi.
Bukankah saat Allah turunkan peringatan dengan muntahan lava pijar, hembusan awan panas disertai hujan kerikil dan suara gemuruh dari perut bumi yang membuat hati miris, manusia tidak kemudian mentauhidkan Allah dan meninggalkan perilaku syirik ?. Mereka justru mengadakan ritual tolak bala dengan menyembelih kerbau, dagingnya mereka makan, sedang sepala ditanam di lereng gunung untuk sesaji ?
Adapun orang mukmin memiliki sikap yang berbeda, bahkan bersebrangan dengan itu semua. Bagi mereka, ‘tabungan’ kebaikan yang dijalani secara kontinyu dalam suka dan duka, adalah sebab dominan datangnya keberuntungan, dan terhindarnya mereka dari petaka. Mereka mengimani kebenaran sabda Nabi saw,”Kenalilah Allah di saat lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di saat sempit”.(HR Tirmidzi).
Waktu longgar baginya adalah saat menabung, investasi amal kepada Allah, dengan memelihara hak – hak Nya, menjaga batas – batas yang telah ditetapkan oleh Nya, termasuk menjalankan ibadah – ibadah sunnah. Dengan itulah seorang mukmin membangun hubungan ma’rifat khashshah (hubungan khusus) dengan Rabb-Nya. Hal itu tak hanya bermanfaat baginya menghadapi hari akhirat yang merupakan asyaddu syiddah(kesempitan yang paling berat), bahkan juga bermanfaat baginya ketika menghadapi kegentingan di dunia. Kisah ketiga orang yang terjebak di gua, merupakan contoh betapa amal shalih yang dilakukan dengan ikhlas, dapat menjadi wasilah dikabulkannya do’a di saat sulit.
Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Salman al-Farisi, bahwa beliau berkata, Apabila seseorang berdo’a kepada Allah pada saat longgar, kemudian kesulitan menerpanya, lalu dia berdo’a, maka malaikat berkata, “(Ini) Suara yang telah dikenal, dari manusia yang lemah, dan sebelumnya biasa berdo’a di saat lapang.”Maka para malaikat memintakan syafaat (kepada Allah) untuknya. Dan jika seseorang tidak pernah berdo’a di saat lapang, kemudian kesulitan menerpanya lantas di berdo’a, maka malaikat berkata,”Suara yang asing ( tidak dikenal) dari seorang manusia lemah, sebelumnya tidak pernah berdo’a pada saat lapang,lantas di saat sulit dia berdo’a.  Maka malaikat tidak memintakan baginya syafaat / pertolongan (kepada Allah).
Kebenaran rumus ini telah terbukti dan dialami oleh Nabi Yunus as, ketika beliau berada dalam perut ikan, tak ada lagi ikhtiar yang mampu dia lakukan. Mustahil pula beliau meminta pertolongan orang lain dalam kondisi itu. Tapi beliau tahu, ada Dzat yang mampu menolongnya. Yang beliau taati saat kondisi aman, tak mungkin membiarkan beliau dalam kondisi ketakutan. Dalam kegelapan perut ikan itu, beliau berkata,”tidak ada ilah yang haq melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang – orang yang dzalim.”(Al-Anbiya:87)
Ucapan tasbih itu didengar oleh Allah, dan Allah pun menyelamatkan beliau. Hanya saja tasbih yang dilantunkan oleh Yunus itu bukan kali pertama beliau ucapkan. Beliau terbiasa mengucapkannya dalam kondisi lapang karena itulah Allah menolongnya. “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang – orang yang banyak mengingat Allah (bertasbih), niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”(Ash-Shafat)
Adapun yang terjadi atas Nabi saw, sangat banyak kisah bertebaran tentangnya. Betapa banyak peristiwa genting yang beliau alami, lalu Allah menyelamatkan beliau dari bahaya musuh.
Rumus ini tak hanya berlaku bagi para anbiya. Siapapun yang mengenal Allah dan menjaga haq –haq-Nya di saat aman, Allah akan mengenalnya di saat genting. Karena itulah seorang mukmin tak pernah bosan mengumpulkan kebaikan. Dia selalu menjaga pengabdiannya kepada Allah dalam segala kondisi, di saat suka dan duka, lapang dan sempit dan saat mudah maupun sulit. Rasulullah saw bersabda,”Tidak kenyang – kenyangnya orang yang beriman dari (mengumpulkan) kebaikan, hingga di berhenti di jannah.”(HR Tirmidzi, beliau berkata,”hadis hasan”)
Mereka yakin, pada saatnya kebaikan itu akan berbuah kebahagiaan. Juga menjadi sebab datangnya pertolongan di dunia dan puncaknya adalah dijauhkannya mereka dari neraka, kesempitan yang paling berat dan penderitaan yang paling dahsyat. Alangkah indah nasihat sebagian ulama salaf,”Jika kamu menyadari amalmu akan ditimbang, baik dan buruknya, maka jangan remehkan kebaikan sekecil apapun, karena kelak kamu akan melihatnya, yang sedikit itu akan membahagiakan dirimu. Dan jangan pula menganggap enteng keburukan sekecil apapun, karena kelak kamu akan saksikan bahwa yang sedikit itu akan membuatmu menyesal.”Wallahu a’lam.
Baca selengkapnya >>